Industri Fintech di Indonesia Percepat Inklusi Keuangan

Industri Fintech di Indonesia Percepat Inklusi Keuangan

Saat ini pinjaman online yang disebut juga dengan pinjaman sangat diminati oleh masyarakat. Selain mekanismenya yang sederhana, proses persetujuannya juga sangat singkat.

Sayangnya, banyak orang yang menggunakan produk pinjaman online tanpa mengetahui produk tersebut dengan baik sebelumnya, sehingga tidak sedikit yang menemukan berbagai kasus. Penggunaan pinjaman online yang tepat dan benar membawa manfaat yang besar bagi calon konsumen.

 Industri fintech Indonesia siap membantu mempercepat integrasi keuangan negara, kata Rudiantara, ketua dewan pengawas Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH).

Inklusi keuangan dimaksud dimaksudkan untuk memastikan bahwa penduduk dewasa Indonesia memiliki akses terhadap layanan keuangan, baik dalam bentuk simpanan, pinjaman maupun investasi. “Industri fintech di Indonesia terus berkembang dan banyak operatornya yang berlisensi,” ujar pria yang akrab disapa Chief RA itu pada workshop AFTECH “Fintech for a Faster Economic Recovery” yang digelar Jumat (19 November 2021) online ini dikuatkan oleh laporan dari Bank Indonesia yang mengatakan transaksi e-money di dalam negeri terus tumbuh pada Oktober 2021, transaksi e-money di Indonesia naik 55,54 persen year-on-year menjadi 29, Rs.23 triliun.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga menemukan bahwa pertumbuhan pinjaman fintech peer-to-peer naik 104,3 persen, atau Rs 262,93 triliun, pada September 2021 tahun ke tahun.

Menurut Rudiantara, investasi di startup fintech di Indonesia terus meningkat, selain itu masih banyak penduduk usia kerja di Indonesia yang belum tersentuh layanan perbankan.Di sisi lain, penetrasi internet di Indonesia terus meningkat.

We Are Social dan Hootsuite menyebutkan dalam laporan yang dirilis Januari 2021 bahwa jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 202,6 juta atau sekitar 73,7 persen dari total penduduk Indonesia. Disebut juga RA, ini membantu mendorong pertumbuhan fintech nasional. “Mengingat tren ini, industri fintech akan tumbuh dan berkembang di tahun-tahun mendatang.

Namun, industri fintech juga menghadapi tantangan, terutama ekspansi ke wilayah non-metropolitan. Masih fokus di kota-kota besar,” kata Menkominfo. untuk periode 2014-2019.

 Selain meningkatkan penerimaan, industri tekfin juga dihadapkan pada tantangan literasi.Terutama dari sisi pengguna, agar lebih berhati-hati dalam menggunakan layanan tekfin. “Selain tantangan perluasan layanan ke pelosok Indonesia, literasi juga penting.

Sehingga masyarakat atau pengguna bisa lebih paham,” imbuhnya. Juga pinjaman legal yang terdaftar resmi di OJK. Topik ini juga membuat persepsi masyarakat kurang cocok dengan fintech karena banyak yang menganggap fintech hanya sebatas layanan pinjaman.

Selain pinjaman, perusahaan fintech ada juga menyertakan layanan pembayaran (pembayaran digital), crowdfunding, keuangan mikro, dan layanan investasi.

Daftar perusahaan yang resmi terdaftar dan disahkan oleh OJK dapat dilihat di website www.ojk.go.id atau dengan menghubungi kontak OJK 157.

Saat ini pinjaman online yang disebut juga dengan pinjaman sangat diminati oleh masyarakat. Selain mekanismenya yang sederhana, proses persetujuannya juga sangat singkat. Sayangnya, banyak orang yang menggunakan produk pinjaman online tanpa mengetahui produk tersebut dengan baik sebelumnya, sehingga tidak sedikit yang menemukan berbagai kasus. Penggunaan pinjaman online yang tepat dan benar membawa manfaat yang besar…